Saturday, December 02, 2017
b


Memonitor Dunia Kurator - Jurnal Ruang

Memonitor Dunia Kurator

oleh Fandy Hutari

17 Februari 2017 Durasi: 4 Menit
Memonitor Dunia Kurator Pada 1990-an, profesi kurator makin populer di Indonesia (Ilustrator: Dwi Sugiyanto).
Kurasi dan Kuasa, Agung Hujatnikajennong, seorang kurator memiliki tugas untuk mencari, menetapkan koleksi, penelitian, penulisan, serta menyelenggarakan pameran berkala.

Dalam buku itu, ia mengatakan bahwa prototipe seseorang yang disebut kurator adalah Dullah. Dullah merupakan pelukis sohor pada masa Soekarno. Ia menjadi pelukis Istana pada 1950 hingga 1960.

Menurut Agung, apa yang dikerjakan Dullah sangat memadai untuk membandingkannya dengan skala kerja seorang kurator museum seni rupa secara umum. Dullah, bukan saja melukis, namun juga berperan menjadi kurator sekaligus konsevator.

Pada 1990-an, profesi kurator makin populer di Indonesia. Namun, terjadi pola pergeseran.

Saat itu, Agung menyebut, muncul kurator partikelir, yang bekerja bebas (independen). Kekuratoran, juga mulai menjadi profesi khusus. Hal ini, kata Agung, tak lepas dari “boom” karya seni pada 1990-an, sebagai akibat munculnya kelas ekonomi mapan di negeri ini.

Contoh kecil gejala munculnya profesi kurator pada 1990-an adalah adanya pencantuman nama di publikasi sebuah pameran, siapa yang mengkuratorinya. Sejak itu, muncul nama-nama kurator, seperti Jim Supangkat, Rizki A. Zaelani, Enin Supriyanto, dan Sanento Yuliman.

Sementara itu, perupa Galam Zulkifli mengatakan, sebelum ada profesi khusus yang disebut kurator, pengkurasian dilakukan sendiri oleh senimannya. Terkadang, juga seleksi bersama dengan pihak penyelenggara pameran. 

“Pemberontakan” dari Amerika

Jim Supangkat sudah menjadi kurator sejak 1990. Awalnya, Jim juga seorang seniman. Bisa dibilang, Jim adalah kurator independen pertama di negeri ini.

“Saya mengambil keputusan pada tahun itu (1990), karena pada 1989 saya ikut pameran internasional di Australia, dan menyadari seniman-seniman Indonesia memerlukan kurator untuk masuk ke forum dunia. Waktu itu dunia seni rupa Indonesia belum kontak dengan seni rupa dunia,” kata Jim.

Keputusan Jim itu diambil lantaran pertimbangan personal. Ia berhenti bekerja sebagai seniman, dan total menjadi seorang kurator.

“Kebetulan di awal 1990 terjadi 'pemberontakan' kurator di AS. Para kurator ramai-ramai keluar dari museum, karena program museum terlalu diarahkan dari atas (National Endowment for the Arts---lembaga independen pemerintah federal AS) untuk kepentingan AS. Waktu itu seni rupa kontemporer sedang mencari arah baru,” kata Jim.

Setelah keluar, para kurator tadi menyatakan diri sebagai kurator independen, dan memunculkan aneka konsep baru di bidang kurasi.

Pengetahuan Jim soal kurasi seni rupa sendiri, ia didapatnya dari kurator terkemuka Amerika Serikat, Mary Jane Jacobs.

“Sebelumnya, kurator di luar museum tidak pernah ada. Mary Jane Jacobs salah seorang tokoh pada pemberontakan ini.”

Waktu itu, saat pertama kali menjadi kurator, Jim sudah menganut ideologi baru kurasi ini, dan menyatakan diri sebagai kurator independen.

“Tapi, cukup lucu karena suasananya kan beda. Di Indonesia waktu itu nggak ada museum (Galeri Nasional belum berdiri) semua kurator ya harus menjadi independent curator, dan ikut-ikutan berontak. Padahal berontak pada siapa?” katanya.

Di sisi lain, Galam Zulkifli mengatakan, keberadaan seorang kurator sangat penting. Jika kurator tak menginginkan suatu karya dalam sebuah pameran, maka karya itu biasanya tak akan ditampilkan.

“Kecuali ada intervensi penyelenggara,” kata Galam.

Pentingnya Pengetahuan

Saat ini, Jim mengatakan, cukup banyak lulusan pendidikan seni rupa yang berminat menjadi kurator. Dari tahun ke tahun angkanya cukup tinggi. Bahkan, sudah banyak kurator yang masuk ke lingkaran seni rupa dunia.

Perkembangan ini, menurut kacamata Jim, ada hubungannya dengan majunya pendidikan teori di perguruan-perguruan seni rupa. Meski hingga hari ini, pendidikan yang khusus teori tidak ada di Indonesia.

Dahulu, untuk mendongkrak jumlah kurator pada 1990, Jim mengajak lulusan seni rupa yang berminat pada teori untuk menjadi seorang kurator.

“Saya didik dengan cara learning by doing, menjadi co-curator pada pameran-pameran yang saya kurasi,” ujar Jim.

 Soal pendidikan seni rupa yang mengkhususkan sebagai pendidikan teori, ini menjadi kendala di Indonesia. Jim melihat, di dunia Barat pendidikan ini sudah menjadi tradisi. Lulusannya disebut art historian, dan bisa menjadi kritikus, kurator, sejarawan seni rupa, dosen, pemilik galeri, dan kurator museum.

“Nah, pendidikan seni rupa kita kan pendidikan untuk menjadikan seniman. Karena itu kurator 1990-an di Indonesia belajar teori sendiri, dan yang menjadi kurator karena memang sudah punya interest (ketertarikan) ke arah ini (kurasi seni rupa).”

Mengenai keahlian seorang kurator, Jim mengungkapkan bahwa itu bisa berkembang melalui pengalaman. Namun, kalau dihubungkan dengan perkembangan kurasi di tanah air, menurut Jim, yang perlu ditekankan modal utamanya adalah pengetahuan.

“Kurasi bertumpu pada pengetahuan tentang seni rupa, berbagai pengetahuan lain, pengetahuan tentang para seniman, dan karya-karyanya,” kata Jim.

Sayangnya, di lingkungan seni rupa kita masih luas anggapan bahwa mengkurasi pameran adalah menafsirkan karya-karya yang dipamerkan tanpa basis pengetahuan.

“Ini ngawur, itu ngarang namanya!”

Proses Kurasi

Garis besar sebuah proses kurasi, menurut Jim, sang kurator yang menentukan bingkai pameran, karena biasanya punya pertimbangan yang lebih luas dibandingkan seniman. Tentu saja, penentuan ini memerlukan pemikiran dan kreativitas.

“Ujungnya adalah presentasi di mana semua aspek kurasi muncul. Bagian penting presentasi adalah menyusun karya di ruang pameran yang sering saya sebut 'kanvasnya' kurator,” kata dia.

Menurut Jim, ada proses kurasi penafsiran di tahap paling akhir. Hal ini tidak terlalu penting dan fakultatif (bersifat pilihan), boleh ada atau tidak. Jika ada, porsinya juga kecil.

“Saya kok punya perasaan, masyarakat kita memang masyarakat yang sangat berani membuat penafsiran dalam hal apa pun tanpa modal pengetahuan. Maka, menjadi kurator itu gampang asal punya keberanian menafsir ini,” katanya.

Lebih lanjut, Jim mengungkapkan, pernah terjadi peristiwa cukup unik di ranah kurasi sebuah pameran seni rupa. Suatu ketika, di Jakarta ada pameran internasional, yang para kuratornya adalah wartawan-wartawan seni dari berbagai media.

“Ini pertama kali terjadi di dunia.”

Di sisi lain, Galam menuturkan, dalam sebuah pameran yang akan dilakukan, kurator akan memilih seniman. Selain itu, seringkali galeri atau penyelenggara pameran tunjuk kurator untuk memilih seniman.

Selama berpameran, Galam belum pernah mengalami pengalaman tak baik dengan kurator. Berkaca pada karyanya yang tahun lalu ramai dibicarakan, karena penampilkan sosok wajah tokoh PKI di antara banyak wajah tokoh Indonesia lainnya di Bandara Soekarno-Hatta, belakangan ia baru tahu tak ada kuratornya.

Meski demikian, Galam mengatakan, jika polemik terjadi terkait dengan pengkurasian karya, menurut Galam, sudah kewajiban kurator untuk bersikap, karena itu salah satu bentuk tanggung jawab kuratorial.

Seorang kurator bukan saja profesi menyeleksi karya seni semata. Seorang kurator, lebih jauh, memiliki tanggung jawab yang besar dalam menangani sebuah pameran seni rupa, dan segala polemik yang mungkin akan terjadi. Selain itu, kuratorial bukan sekadar memilah sebuah karya seni. Ia juga harus memiliki pengetahuan luas menyoal karya seni (*)


Referensi

Artikel dan Buku

Hendaru, Tri Hanggoro. “Jejak Kurator Indonesia” dalam Historia.id. 21 Maret 2015. Diakses dari http://historia.id/budaya/jejak-kurator-indonesia
Hujatnikajennong, Agung. 2015. Kurasi dan Kuasa; Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer di Indonesia. Tangerang: Marjin Kiri.
Zulkifli, Galam. “Kurator” dalam Indonesian Art Culture Community. 22 September 2015. Diakses dari http://indonesianartculture.org/column/detail/?id=Kurator

Wawancara

Wawancara Kuss Indarto pada pertengahan Januari 2017.
Wawancara Jim Supangkat pada akhir Januari 2017.
Wawancara Galam Zulkifli pada awal Februari 2017.

">

“Kemungkinan sekitar tahun 2004. Itu beberapa waktu setelah saya berpameran tunggal sebagai seniman di LIP (Lembaga Indonesia Prancis), Yogyakarta,” kata kurator seni rupa, Kuss Indarto, mengisahkan awal mula ia terjun ke bidang kuratorial.

Sebelumnya, Kuss juga pernah melakukan survei seni rupa selama dua bulan di Sumatra Barat. Kegiatan itu didanai Humanistisch Instituut voor Ontwikkelingssamenwerking (Hivos).

Ketika awal menggeluti profesi ini, Kuss melihat, di Indonesia terlalu banyak seniman. Namun, jumlah mediator yang bisa menjadi jembatan dunia seni rupa ke publik masih kurang.

Prototipe Kurator Pertama

Menurut kurator dan penulis buku Kurasi dan KuasaAgung Hujatnikajennong, seorang kurator memiliki tugas untuk mencari, menetapkan koleksi, penelitian, penulisan, serta menyelenggarakan pameran berkala.

Dalam buku itu, ia mengatakan bahwa prototipe seseorang yang disebut kurator adalah Dullah. Dullah merupakan pelukis sohor pada masa Soekarno. Ia menjadi pelukis Istana pada 1950 hingga 1960.

Menurut Agung, apa yang dikerjakan Dullah sangat memadai untuk membandingkannya dengan skala kerja seorang kurator museum seni rupa secara umum. Dullah, bukan saja melukis, namun juga berperan menjadi kurator sekaligus konsevator.

Pada 1990-an, profesi kurator makin populer di Indonesia. Namun, terjadi pola pergeseran.

Saat itu, Agung menyebut, muncul kurator partikelir, yang bekerja bebas (independen). Kekuratoran, juga mulai menjadi profesi khusus. Hal ini, kata Agung, tak lepas dari “boom” karya seni pada 1990-an, sebagai akibat munculnya kelas ekonomi mapan di negeri ini.

Contoh kecil gejala munculnya profesi kurator pada 1990-an adalah adanya pencantuman nama di publikasi sebuah pameran, siapa yang mengkuratorinya. Sejak itu, muncul nama-nama kurator, seperti Jim Supangkat, Rizki A. Zaelani, Enin Supriyanto, dan Sanento Yuliman.

Sementara itu, perupa Galam Zulkifli mengatakan, sebelum ada profesi khusus yang disebut kurator, pengkurasian dilakukan sendiri oleh senimannya. Terkadang, juga seleksi bersama dengan pihak penyelenggara pameran. 

“Pemberontakan” dari Amerika

Jim Supangkat sudah menjadi kurator sejak 1990. Awalnya, Jim juga seorang seniman. Bisa dibilang, Jim adalah kurator independen pertama di negeri ini.

“Saya mengambil keputusan pada tahun itu (1990), karena pada 1989 saya ikut pameran internasional di Australia, dan menyadari seniman-seniman Indonesia memerlukan kurator untuk masuk ke forum dunia. Waktu itu dunia seni rupa Indonesia belum kontak dengan seni rupa dunia,” kata Jim.

Keputusan Jim itu diambil lantaran pertimbangan personal. Ia berhenti bekerja sebagai seniman, dan total menjadi seorang kurator.

“Kebetulan di awal 1990 terjadi 'pemberontakan' kurator di AS. Para kurator ramai-ramai keluar dari museum, karena program museum terlalu diarahkan dari atas (National Endowment for the Arts---lembaga independen pemerintah federal AS) untuk kepentingan AS. Waktu itu seni rupa kontemporer sedang mencari arah baru,” kata Jim.

Setelah keluar, para kurator tadi menyatakan diri sebagai kurator independen, dan memunculkan aneka konsep baru di bidang kurasi.

Pengetahuan Jim soal kurasi seni rupa sendiri, ia didapatnya dari kurator terkemuka Amerika Serikat, Mary Jane Jacobs.

“Sebelumnya, kurator di luar museum tidak pernah ada. Mary Jane Jacobs salah seorang tokoh pada pemberontakan ini.”

Waktu itu, saat pertama kali menjadi kurator, Jim sudah menganut ideologi baru kurasi ini, dan menyatakan diri sebagai kurator independen.

“Tapi, cukup lucu karena suasananya kan beda. Di Indonesia waktu itu nggak ada museum (Galeri Nasional belum berdiri) semua kurator ya harus menjadi independent curator, dan ikut-ikutan berontak. Padahal berontak pada siapa?” katanya.

Di sisi lain, Galam Zulkifli mengatakan, keberadaan seorang kurator sangat penting. Jika kurator tak menginginkan suatu karya dalam sebuah pameran, maka karya itu biasanya tak akan ditampilkan.

“Kecuali ada intervensi penyelenggara,” kata Galam.

Pentingnya Pengetahuan

Saat ini, Jim mengatakan, cukup banyak lulusan pendidikan seni rupa yang berminat menjadi kurator. Dari tahun ke tahun angkanya cukup tinggi. Bahkan, sudah banyak kurator yang masuk ke lingkaran seni rupa dunia.

Perkembangan ini, menurut kacamata Jim, ada hubungannya dengan majunya pendidikan teori di perguruan-perguruan seni rupa. Meski hingga hari ini, pendidikan yang khusus teori tidak ada di Indonesia.

Dahulu, untuk mendongkrak jumlah kurator pada 1990, Jim mengajak lulusan seni rupa yang berminat pada teori untuk menjadi seorang kurator.

“Saya didik dengan cara learning by doing, menjadi co-curator pada pameran-pameran yang saya kurasi,” ujar Jim.

 Soal pendidikan seni rupa yang mengkhususkan sebagai pendidikan teori, ini menjadi kendala di Indonesia. Jim melihat, di dunia Barat pendidikan ini sudah menjadi tradisi. Lulusannya disebut art historian, dan bisa menjadi kritikus, kurator, sejarawan seni rupa, dosen, pemilik galeri, dan kurator museum.

Nah, pendidikan seni rupa kita kan pendidikan untuk menjadikan seniman. Karena itu kurator 1990-an di Indonesia belajar teori sendiri, dan yang menjadi kurator karena memang sudah punya interest (ketertarikan) ke arah ini (kurasi seni rupa).”

Mengenai keahlian seorang kurator, Jim mengungkapkan bahwa itu bisa berkembang melalui pengalaman. Namun, kalau dihubungkan dengan perkembangan kurasi di tanah air, menurut Jim, yang perlu ditekankan modal utamanya adalah pengetahuan.

“Kurasi bertumpu pada pengetahuan tentang seni rupa, berbagai pengetahuan lain, pengetahuan tentang para seniman, dan karya-karyanya,” kata Jim.

Sayangnya, di lingkungan seni rupa kita masih luas anggapan bahwa mengkurasi pameran adalah menafsirkan karya-karya yang dipamerkan tanpa basis pengetahuan.

“Ini ngawur, itu ngarang namanya!”

Proses Kurasi

Garis besar sebuah proses kurasi, menurut Jim, sang kurator yang menentukan bingkai pameran, karena biasanya punya pertimbangan yang lebih luas dibandingkan seniman. Tentu saja, penentuan ini memerlukan pemikiran dan kreativitas.

“Ujungnya adalah presentasi di mana semua aspek kurasi muncul. Bagian penting presentasi adalah menyusun karya di ruang pameran yang sering saya sebut 'kanvasnya' kurator,” kata dia.

Menurut Jim, ada proses kurasi penafsiran di tahap paling akhir. Hal ini tidak terlalu penting dan fakultatif (bersifat pilihan), boleh ada atau tidak. Jika ada, porsinya juga kecil.

“Saya kok punya perasaan, masyarakat kita memang masyarakat yang sangat berani membuat penafsiran dalam hal apa pun tanpa modal pengetahuan. Maka, menjadi kurator itu gampang asal punya keberanian menafsir ini,” katanya.

Lebih lanjut, Jim mengungkapkan, pernah terjadi peristiwa cukup unik di ranah kurasi sebuah pameran seni rupa. Suatu ketika, di Jakarta ada pameran internasional, yang para kuratornya adalah wartawan-wartawan seni dari berbagai media.

“Ini pertama kali terjadi di dunia.”

Di sisi lain, Galam menuturkan, dalam sebuah pameran yang akan dilakukan, kurator akan memilih seniman. Selain itu, seringkali galeri atau penyelenggara pameran tunjuk kurator untuk memilih seniman.

Selama berpameran, Galam belum pernah mengalami pengalaman tak baik dengan kurator. Berkaca pada karyanya yang tahun lalu ramai dibicarakan, karena penampilkan sosok wajah tokoh PKI di antara banyak wajah tokoh Indonesia lainnya di Bandara Soekarno-Hatta, belakangan ia baru tahu tak ada kuratornya.

Meski demikian, Galam mengatakan, jika polemik terjadi terkait dengan pengkurasian karya, menurut Galam, sudah kewajiban kurator untuk bersikap, karena itu salah satu bentuk tanggung jawab kuratorial.

Seorang kurator bukan saja profesi menyeleksi karya seni semata. Seorang kurator, lebih jauh, memiliki tanggung jawab yang besar dalam menangani sebuah pameran seni rupa, dan segala polemik yang mungkin akan terjadi. Selain itu, kuratorial bukan sekadar memilah sebuah karya seni. Ia juga harus memiliki pengetahuan luas menyoal karya seni (*)


Referensi

Artikel dan Buku

Hendaru, Tri Hanggoro. “Jejak Kurator Indonesia” dalam Historia.id. 21 Maret 2015. Diakses dari http://historia.id/budaya/jejak-kurator-indonesia
Hujatnikajennong, Agung. 2015. Kurasi dan Kuasa; Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer di Indonesia. Tangerang: Marjin Kiri.
Zulkifli, Galam. “Kurator” dalam Indonesian Art Culture Community. 22 September 2015. Diakses dari http://indonesianartculture.org/column/detail/?id=Kurator

Wawancara

Wawancara Kuss Indarto pada pertengahan Januari 2017.
Wawancara Jim Supangkat pada akhir Januari 2017.
Wawancara Galam Zulkifli pada awal Februari 2017.

Fandy Hutari

Fandy Hutari. Editor Sejarah di Jurnal Ruang. Penulis, periset, dan pengarsip sejarah hiburan. Berminat pada kajian sejarah sandiwara dan film Indonesia.



bayugenia berkhotbah @ 12:20 am
Make a comment
Saturday, December 02, 2017
a


This is Google's cache of https://jurnalruang.com/read/1493957360-menyoal-kurasi-dan-kurator-seni. It is a snapshot of the page as it appeared on 30 Nov 2017 09:51:09 GMT. The current page could have changed in the meantime. Learn more Full versionText-only versionView sourceTip: To quickly find your search term on this page, press Ctrl+F or ⌘-F (Mac) and use the find bar. Menyoal Kurasi dan Kurator Seni - Jurnal Ruang

Menyoal Kurasi dan Kurator Seni

oleh Fandy Hutari

11 Mei 2017 Durasi: 4 Menit
Menyoal Kurasi dan Kurator Seni Di seluruh dunia, pengetahuan dasar keahlian kurator masih sejarah seni rupa (ILustrator: Dwi Sugiyanto).
Jim Supangkat, mulai menjadi kurator independen pada 1990. Sebelumnya, masih di tahun yang sama, terjadi “pemberontakan” kurator di Amerika Serikat. Mereka ramai-ramai meninggalkan museum, karena program museum terlalu diarahkan oleh National Endowment for the Arts---lembaga independen pemerintah federal Amerika Serikat.

Setelah keluar, para kurator itu menyatakan diri sebagai kurator independen. Mereka memunculkan beragam konsep baru di bidang kurasi.

Gerakan di Amerika Serikat itu, turut memengaruhi pilihan karier pria kelahiran 2 Mei 1948 tersebut. Pengetahuan Jim---yang sebelumnya menjadi pelukis dan penulis---mengenai kurasi seni ia dapatkan dari kurator terkemuka Amerika Serikat yang juga salah seorang tokoh “pemberontakan” itu, Mary Jane Jacobs.

Sebelumnya, Jim berprofesi sebagai seorang pelukis dan bekerja di media hiburan populer, Aktuil serta Tempo.

Kurator merupakan sebuah profesi di lapangan seni yang tugasnya mengurus atau mengawasi institusi warisan budaya atau seni. Kurator sendiri bertugas memilih dan mengurus objek museum atau karya seni yang dipamerkan.

Lantas, bagaimana menurut pandangan Jim mengenai dunia kuratorial seni rupa di Indonesia? Ruang mewawancarai Jim lebih jauh.

Menurut Bapak, bagaimana kondisi dunia seni rupa kita secara umum, bila dibandingkan saat tahun-tahun awal Bapak memulai menjadi seniman?Dunia seni rupa kita sudah sangat berkembang dibandingkan kondisinya pada 1970-an, ketika saya memulai karier sebagai seniman. Ada banyak hal yang bisa dikaji untuk menunjukkan kemajuan ini, di antaranya yang penting berkembangkan publik seni rupa. Di tahun 1970-an, publik ini boleh dibilang tidak ada.

Namun, karena Anda menghubungkan perkembangan sekarang dengan awal karier saya, saya cenderung mengambil kemunculan Gerakan Seni Rupa Baru pada pertengahan 1970-an, di mana saya terlibat.

Dalam kajian sekarang, di tanah air maupun di mancanegara, gerakan ini dibaca sebagai embrio seni rupa kotemporer. Di 1970-an, karya-karya gerakan ini dipertanyakan, dianggap aneh karena tidak dipahami. Sekarang seni rupa kontemporer sudah menjadi mainstream pada perkembangan seni rupa kita.

Seni rupa kontemprer menjadi jembatan seniman Indonesia masuk ke forum seni rupa dunia. Sudah banyak kolektor yang membeli karya-karya seni rupa kontemporer. 

Apakah profesi Bapak sebagai seniman dan penulis berpengaruh terhadap keputusan untuk menjadi kurator independen pada 1990?
Iya betul. Sejak saya masih mahasiswa, saya sudah tertarik pada pemikiran seni rupa yang mendampingi praktik seni rupa, dan sudah sering menulis. Waktu saya dihadapkan pada keharusan memilih menjadi seniman atau kurator, minat saya pada pemikiran seni rupa---yang sering disebut bidang teori---berperan pada pengambilan keputusan menjadi kurator.

Bagaimana peran kurator di Indonesia secara umum?
Peran kurator di Indonesia pada kegiatan seni rupa di tanah air sekarang ini sudah bagus banget. Karena hampir semua pameran selalu melibatkan kurasi, pembahasan tentang seluk-beluk karya seni rupa meningkat. Pemahaman kan menjadi lebih baik. Karya seni rupa jadi ada gunanya buat masyarakat.

Menurut Bapak, apa kelemahan seorang kurator di Indonesia?
Kalau mau digali-gali, kelemahan kurator di Indonesia menurut pendapat saya adalah kurang mencari dalam menetapkan tema dan bingkai pameran. Terlalu mengikuti tren. Penetapan tema yang unggul harus dipahami sebagai menemukan sebuah dasar pameran yang bisa menarik perhatian publik. Pameran ini punya magnitude (ukuran kekuatan).

Apa keahlian mendasar dan harus diperhatikan bagi seorang kurator yang baik?
Di seluruh dunia, pengetahuan dasar keahlian kurator masih sejarah seni rupa. Meski sejarah seni rupanya sendiri, sebagai ideologi, sudah tidak populer. Dari pengetahuan ini, seorang kurator mempunyai kapasitas atau keahlian (terlatih) mengenali berbagai bahasa rupa, dan pesona yang muncul dari pengolahan bahasa ini. Ini mendasar untuk menyusun pameran bagus. Karena itu, tanpa latar belakang pendidikan seni rupa, agak mustahil seseorang menjadi kurator.

Kapasitas mengkurasi pameran ditentukan juga oleh berbagai pengalaman, seperti terjadi di bidang lain. Latar belakang pendidikan dan pengetahuan, tidak menjamin seorang kurator sampai pada ide-ide pameran yang bagus. Pengetahuan lapangan, pergaulan dengan seniman, dan pengalaman mengatasi masalah pada penyelenggaran pameran ikut menentukan apakah seorang kurator bisa menjadi kurator yang baik.

Adakah pendidikan khusus kurator di Indonesia? Jika tidak ada, apakah ini sangat berpengaruh terhadap profesi kurator?
Rasanya saya sudah mengemukakan cukup lanjut tentang pendidikan art historian, yaitu pendidikan di bidang teori yang mendampingi seni rupa sebagai praktik (art making) yang mendasari profesi kurator.

Dalam arti, lulusan pendidikan ini bisa menjadi kurator, kalau mau. Pilihan lain, menjadi kritkus atau sejarawan seni rupa. Ya pendidikan ini tidak ada di tanah air, dan otomatis memengaruhi profesi kurator, kuantitas maupun kualitas.

Bagaimana cara mencetak kurator lebih banyak di Indonesia?
Sekarang ini, peningkatan jumlah kurator dalam pengamatan saya sudah lumayan. Banyak lulusan pendidikan seni rupa yang berminat menjadi kurator. Profesi ini kelihatannya seksi. Yang harus menjawab pertanyaan tentang menambah jumlah yang sudah ada adalah perguruan tinggi seni rupa.

Dalam sebuah wawancara, Bapak pernah mengatakan, kurator independen bebas dari tanggung jawab publik dan tidak dituntut memiliki kemampuan. Bisa dijelaskan mengenai hal ini?
Jawaban untuk pertanyaan ini agak rumit dan potensial membangkitkan pemahaman yang salah. Rasanya pernah saya kemukakan tentang asal mulanya kurator independen dan seluk-beluknya.

Soal tanggung jawab kurator yang Anda tanyakan, berkaitan dengan museum yang di negara maju adalah institusi milik publik, yang dibiayai uang publik. Kurator yang bekerja di museum dengan sendirinya punya tanggung jawab langsung kepada publik. Sama seperti pegawai negeri atau pejabat yang berurusan dengan uang negara.

Kurator independen adalah kurator yang keluar dari museum. Karena itu, secara masuk akal tidak punya tanggung jawab lagi kepada publik. Bisa dibaca sebagai “dibebaskan” dari tanggung jawab ini.

Namun, keluarnya para kurator ini dari museum bukan karena persoalan gaji, tapi karena pertentangan ideologi. Ketika peristiwa ini terjadi, museum justru sedang "mengkhianati" publik, karena wacana yang mendominasi museum adalah wacana esoterik (suatu hal yang diajarkan atau bisa dimengerti sekelompok orang).

Karya-karya yang dibeli dan dipamerkan di museum (karya-karya abstrak) tidak dimengerti publik. Kurator independen justru mencoba mengembalikan wacana seni rupa ke publik.  Karena itu, rasa tanggung jawab sosial kurator independen pada kenyataannya lebih besar dibandingkan kurator-kurator museum ketika itu. 

Bapak pernah mengatakan, di sebuah pameran internasional di Jakarta pernah ada wartawan seni dan budaya menjadi kurator. Hal ini berkaitan dengan segala sesuatu yang serba instan di masa sekarang. Bagaimana Bapak memandangnya? Menurut Bapak, baik atau justru buruk untuk dunia kuratorial?
Ya betul. Di Biennale Jakarta, saya lupa tahunnya, pernah ditangani para wartawan. Artinya, para waratawan ini menjadi kurator-kurator biennale internasional ini.

Padahal profesi mereka wartawan, bukan kurator, jadi sudah tentu mereka tidak punya pengalaman mengkurasi pameran. Kapasitas kurator ditentukan juga oleh pengalamannya mengkurasi. Selain itu, para kurator wartawan ini tidak ada yang punya latar belakang pendidikan seni rupa.

Hasilnya bisa diduga, ya amburadul.

Pangkal kejadian yang cuma bisa ditemukan di Indonesia itu adalah kenyataan bahwa resensi, ulasan, dan laporan tentang pameran seni rupa umumnya muncul di koran atau majalah umum, karena kurangnya jurnal seni rupa.

Gejala ini membuat beberapa wartawan yang menangani rubrik seni rupa merasa menjadi kritikus terkemuka. Mereka terkecoh ketika menyangka kritikus terkemuka secara otomatis adalah kurator terkemuka juga.

Menjawab pertanyaan Anda, saya berpendapat kejadian ini sebaiknya tidak berulang. Jadi kritikus dan kurator itu nggak sembarangan.

Saat ini, Bapak sedang membaca buku apa? 
Buku-buku yang saya baca akhir-akhir ini berkaitan dengan sejarah dan sejarah seni rupa, karena saya sedang mencoba menulis buku tentang sejarah seni rupa Indonesia. Semoga bisa kejadian (selesai dan diterbitkan) (*)

      

">

Kurator seni rupa Jim Abiyasa Supangkat Silaen, akrab disapa Jim Supangkat, mulai menjadi kurator independen pada 1990. Sebelumnya, masih di tahun yang sama, terjadi “pemberontakan” kurator di Amerika Serikat. Mereka ramai-ramai meninggalkan museum, karena program museum terlalu diarahkan oleh National Endowment for the Arts---lembaga independen pemerintah federal Amerika Serikat.

Setelah keluar, para kurator itu menyatakan diri sebagai kurator independen. Mereka memunculkan beragam konsep baru di bidang kurasi.

Gerakan di Amerika Serikat itu, turut memengaruhi pilihan karier pria kelahiran 2 Mei 1948 tersebut. Pengetahuan Jim---yang sebelumnya menjadi pelukis dan penulis---mengenai kurasi seni ia dapatkan dari kurator terkemuka Amerika Serikat yang juga salah seorang tokoh “pemberontakan” itu, Mary Jane Jacobs.

Sebelumnya, Jim berprofesi sebagai seorang pelukis dan bekerja di media hiburan populer, Aktuil serta Tempo.

Kurator merupakan sebuah profesi di lapangan seni yang tugasnya mengurus atau mengawasi institusi warisan budaya atau seni. Kurator sendiri bertugas memilih dan mengurus objek museum atau karya seni yang dipamerkan.

Lantas, bagaimana menurut pandangan Jim mengenai dunia kuratorial seni rupa di Indonesia? Ruang mewawancarai Jim lebih jauh.

Menurut Bapak, bagaimana kondisi dunia seni rupa kita secara umum, bila dibandingkan saat tahun-tahun awal Bapak memulai menjadi seniman?Dunia seni rupa kita sudah sangat berkembang dibandingkan kondisinya pada 1970-an, ketika saya memulai karier sebagai seniman. Ada banyak hal yang bisa dikaji untuk menunjukkan kemajuan ini, di antaranya yang penting berkembangkan publik seni rupa. Di tahun 1970-an, publik ini boleh dibilang tidak ada.

Namun, karena Anda menghubungkan perkembangan sekarang dengan awal karier saya, saya cenderung mengambil kemunculan Gerakan Seni Rupa Baru pada pertengahan 1970-an, di mana saya terlibat.

Dalam kajian sekarang, di tanah air maupun di mancanegara, gerakan ini dibaca sebagai embrio seni rupa kotemporer. Di 1970-an, karya-karya gerakan ini dipertanyakan, dianggap aneh karena tidak dipahami. Sekarang seni rupa kontemporer sudah menjadi mainstream pada perkembangan seni rupa kita.

Seni rupa kontemprer menjadi jembatan seniman Indonesia masuk ke forum seni rupa dunia. Sudah banyak kolektor yang membeli karya-karya seni rupa kontemporer. 

Apakah profesi Bapak sebagai seniman dan penulis berpengaruh terhadap keputusan untuk menjadi kurator independen pada 1990?
Iya betul. Sejak saya masih mahasiswa, saya sudah tertarik pada pemikiran seni rupa yang mendampingi praktik seni rupa, dan sudah sering menulis. Waktu saya dihadapkan pada keharusan memilih menjadi seniman atau kurator, minat saya pada pemikiran seni rupa---yang sering disebut bidang teori---berperan pada pengambilan keputusan menjadi kurator.

Bagaimana peran kurator di Indonesia secara umum?
Peran kurator di Indonesia pada kegiatan seni rupa di tanah air sekarang ini sudah bagus banget. Karena hampir semua pameran selalu melibatkan kurasi, pembahasan tentang seluk-beluk karya seni rupa meningkat. Pemahaman kan menjadi lebih baik. Karya seni rupa jadi ada gunanya buat masyarakat.

Menurut Bapak, apa kelemahan seorang kurator di Indonesia?
Kalau mau digali-gali, kelemahan kurator di Indonesia menurut pendapat saya adalah kurang mencari dalam menetapkan tema dan bingkai pameran. Terlalu mengikuti tren. Penetapan tema yang unggul harus dipahami sebagai menemukan sebuah dasar pameran yang bisa menarik perhatian publik. Pameran ini punya magnitude (ukuran kekuatan).

Apa keahlian mendasar dan harus diperhatikan bagi seorang kurator yang baik?
Di seluruh dunia, pengetahuan dasar keahlian kurator masih sejarah seni rupa. Meski sejarah seni rupanya sendiri, sebagai ideologi, sudah tidak populer. Dari pengetahuan ini, seorang kurator mempunyai kapasitas atau keahlian (terlatih) mengenali berbagai bahasa rupa, dan pesona yang muncul dari pengolahan bahasa ini. Ini mendasar untuk menyusun pameran bagus. Karena itu, tanpa latar belakang pendidikan seni rupa, agak mustahil seseorang menjadi kurator.

Kapasitas mengkurasi pameran ditentukan juga oleh berbagai pengalaman, seperti terjadi di bidang lain. Latar belakang pendidikan dan pengetahuan, tidak menjamin seorang kurator sampai pada ide-ide pameran yang bagus. Pengetahuan lapangan, pergaulan dengan seniman, dan pengalaman mengatasi masalah pada penyelenggaran pameran ikut menentukan apakah seorang kurator bisa menjadi kurator yang baik.

Adakah pendidikan khusus kurator di Indonesia? Jika tidak ada, apakah ini sangat berpengaruh terhadap profesi kurator?
Rasanya saya sudah mengemukakan cukup lanjut tentang pendidikan art historian, yaitu pendidikan di bidang teori yang mendampingi seni rupa sebagai praktik (art making) yang mendasari profesi kurator.

Dalam arti, lulusan pendidikan ini bisa menjadi kurator, kalau mau. Pilihan lain, menjadi kritkus atau sejarawan seni rupa. Ya pendidikan ini tidak ada di tanah air, dan otomatis memengaruhi profesi kurator, kuantitas maupun kualitas.

Bagaimana cara mencetak kurator lebih banyak di Indonesia?
Sekarang ini, peningkatan jumlah kurator dalam pengamatan saya sudah lumayan. Banyak lulusan pendidikan seni rupa yang berminat menjadi kurator. Profesi ini kelihatannya seksi. Yang harus menjawab pertanyaan tentang menambah jumlah yang sudah ada adalah perguruan tinggi seni rupa.

Dalam sebuah wawancara, Bapak pernah mengatakan, kurator independen bebas dari tanggung jawab publik dan tidak dituntut memiliki kemampuan. Bisa dijelaskan mengenai hal ini?
Jawaban untuk pertanyaan ini agak rumit dan potensial membangkitkan pemahaman yang salah. Rasanya pernah saya kemukakan tentang asal mulanya kurator independen dan seluk-beluknya.

Soal tanggung jawab kurator yang Anda tanyakan, berkaitan dengan museum yang di negara maju adalah institusi milik publik, yang dibiayai uang publik. Kurator yang bekerja di museum dengan sendirinya punya tanggung jawab langsung kepada publik. Sama seperti pegawai negeri atau pejabat yang berurusan dengan uang negara.

Kurator independen adalah kurator yang keluar dari museum. Karena itu, secara masuk akal tidak punya tanggung jawab lagi kepada publik. Bisa dibaca sebagai “dibebaskan” dari tanggung jawab ini.

Namun, keluarnya para kurator ini dari museum bukan karena persoalan gaji, tapi karena pertentangan ideologi. Ketika peristiwa ini terjadi, museum justru sedang "mengkhianati" publik, karena wacana yang mendominasi museum adalah wacana esoterik (suatu hal yang diajarkan atau bisa dimengerti sekelompok orang).

Karya-karya yang dibeli dan dipamerkan di museum (karya-karya abstrak) tidak dimengerti publik. Kurator independen justru mencoba mengembalikan wacana seni rupa ke publik.  Karena itu, rasa tanggung jawab sosial kurator independen pada kenyataannya lebih besar dibandingkan kurator-kurator museum ketika itu. 

Bapak pernah mengatakan, di sebuah pameran internasional di Jakarta pernah ada wartawan seni dan budaya menjadi kurator. Hal ini berkaitan dengan segala sesuatu yang serba instan di masa sekarang. Bagaimana Bapak memandangnya? Menurut Bapak, baik atau justru buruk untuk dunia kuratorial?
Ya betul. Di Biennale Jakarta, saya lupa tahunnya, pernah ditangani para wartawan. Artinya, para waratawan ini menjadi kurator-kurator biennale internasional ini.

Padahal profesi mereka wartawan, bukan kurator, jadi sudah tentu mereka tidak punya pengalaman mengkurasi pameran. Kapasitas kurator ditentukan juga oleh pengalamannya mengkurasi. Selain itu, para kurator wartawan ini tidak ada yang punya latar belakang pendidikan seni rupa.

Hasilnya bisa diduga, ya amburadul.

Pangkal kejadian yang cuma bisa ditemukan di Indonesia itu adalah kenyataan bahwa resensi, ulasan, dan laporan tentang pameran seni rupa umumnya muncul di koran atau majalah umum, karena kurangnya jurnal seni rupa.

Gejala ini membuat beberapa wartawan yang menangani rubrik seni rupa merasa menjadi kritikus terkemuka. Mereka terkecoh ketika menyangka kritikus terkemuka secara otomatis adalah kurator terkemuka juga.

Menjawab pertanyaan Anda, saya berpendapat kejadian ini sebaiknya tidak berulang. Jadi kritikus dan kurator itu nggak sembarangan.

Saat ini, Bapak sedang membaca buku apa? 
Buku-buku yang saya baca akhir-akhir ini berkaitan dengan sejarah dan sejarah seni rupa, karena saya sedang mencoba menulis buku tentang sejarah seni rupa Indonesia. Semoga bisa kejadian (selesai dan diterbitkan) (*)

      

Fandy Hutari

Fandy Hutari. Editor Sejarah di Jurnal Ruang. Penulis, periset, dan pengarsip sejarah hiburan. Berminat pada kajian sejarah sandiwara dan film Indonesia.



bayugenia berkhotbah @ 12:15 am
Make a comment
Tuesday, June 16, 2009
Feeling Insignificant


Akhir-akhir ini hidup memang menjadi sangat tidak menarik, membosankan, dan saya mulai sedikit kehilangan gairah. So pathetic. Saya mulai merasa seperti tokoh2 pecundang di film-film Hollywood: kerja 8 to 5; pulang kerja cari dvd terus nyampe rumah nonton dvd sendirian, main game, internetan, nonton berita politik, menertawakan kekonyolan Tukul Arwana, tidur (atau ketiduran), bangun pagi gara2 alarm, bergegas ke kantor, kerja 8 to 5; pulang kerja kehujanan, yeah.. menyebalkan...

Satu-satunya yang jadi hiburan adalah bertemu teman-teman; bermain musik, nonton di bioskop, atau sekedar ngobrol, mengenang masa-masa awal kuliah, mengingat hal-hal menarik yang pernah kita lakukan, menceritakan ketololan-ketololan kawan-kawan kita. Saya memang pemuja memori; saya selalu mengingat hal-hal indah yang pernah saya lewati bersama siapapun.

Terinspirasi film Wanted (kalo ga salah), karena saya sedang dalam puncak muak, merasa 'tidak penting' (feeling insignificant) seperti tokoh utama di film itu; saya mencoba mengetik "Bayu Genia" di kotak pencarian google;... syukurlah, saya ternyata tidak se-menyedihkan tokoh utama tadi; setidaknya ada 7 (wow, angka favorit saya) halaman yang memuat atau mencantumkan nama saya dalam tulisan mereka.

Ada account friendster, myspace, dan beberapa tulisan blog yang memuat nama saya. Bahkan ada seorang wanita sholehah berjilbab yang mencantumkan salah satu artikel di blog saya sebagai catatan kaki tugas Ujian Akhir Semester-nya; dia bahas soal dunia pendidikan di Indonesia, dan memang saya pernah bikin tulisan panjang soal dunia pendidikan di Indonesia menurut pandangan saya. Wow, bayugenia.tk sudah diakui secara ilmiah-kah seperti wikipedia.org? hahaha... Menarik sekali, dan terima kasih sudah mempercayai gumaman saya.

Ada beberapa juga yang menyebutkan nama saya di cerita blog teman-teman saya, ada juga yang mengucapkan selamat ulang tahun. Dan oh ya, ada nama saya juga tercantum di blog salah seorang yang pernah menjadi teman hidup saya. Sedih sekali rasanya; dulu saya cuek sekali berarti... Karena ada beberapa posting blog dia yang ternyata belum saya baca; yang menyangkut relationship kami (dulu); bahkan saya baru baca soal point-point penting yang kami ributkan di hari kami memutuskan berpisah, sebenarnya pernah dia tulis di blognya.

Yeah, itu memang jadi pelajaran berharga buat saya, walaupun pada akhirnya membut saya (kembali) merasa bersalah. Setidaknya itu jadi pelajaran buat saya di masa depan; jangan pernah menuntut hal yang sebenarnya orang lain punya tapi kita belum 'menyadari' itu. Ya, saya pernah bilang "kamu ga tau siapa saya"; dan saat saya baca tulisan-tulisan itu, justru saya berpikir; saya yang ngga benar-benar mengenal siapa dia.

Sudahlah, saya tidak bermaksud terus menerus bergulat dengan romantisisme masa lalu. Lagipula itu sudah sangat lama. Time heals all wound, kata orang, dan saya amini.

Tiba-tiba saja saya ingin segera pergi jauh.

Untuk benar-benar 'move on'.

 

 



bayugenia berkhotbah @ 05:03 pm
Make a comment
Monday, September 29, 2008
Gerakan 30 September 1965 Menurut Pandangan Saya


Saya kebetulan mendapatkan pendidikan formal dasar saat rezim militer Soeharto berjaya. Seingat saya, waktu jaman saya SD sudah tiga kali wakil presiden berganti, Sudharmono, Try Soetrisno, dan BJ Habibi; presidennya tentu saja tetap "The Great" Soeharto. Generasi saya bisa dibilang generasi "sial", mendapatkan pengetahuan sejarah yang cenderung konspiratif, penuh doktrin-doktrin hitam, banyak fakta yang diputar-balikkan, atau ditutup-tutupi.

Salah satu sejarah yang saya maksud adalah Gerakan 30 September (G 30 S), jaman Soeharto dulu kita menyebutnya G 30 S/PKI--dimana Soeharto sukses mendoktrin sebagian besar rakyat Indonesia dengan teror film G 30 S/PKI yang diputar setiap tanggal 30 September itu--; pasca reformasi tuduhan terhadap PKI dihilangkan berdasarkan fakta-fakta sejarah yang mengungkapkan bahwa ada beberapa kemungkinan "dalang" dibalik tragedi kemanusiaan ini, diantaranya CIA, Soekarno, PKI, atau bahkan Soeharto dan antek-antek militer-nya.

Sebelum saya bahas perlu diketahui bahwa baya bukan seorang Komunis, dan walaupun saya pemuja Soekarno, saya bukan Soekarnois. Saya membaca Marx, Nietzsche, Camus, tidak lantas kemudian menjadi seorang Marxis, Nietzschean, atau Camus-ean (atau Camus-is), walaupun saya menggemari mereka. Saya seorang individualis; tidak berdiri dan bergantung atas apapun. Tapi kalau ditanya "pilih sosialis atau kapitalis", "Uni Sovyet atau Amerika"; saya pilih sosialis, dan Uni Sovyet tentu saja. Bangsa Indonesia ini sejak jaman pra-sejarah sudah dikenal sebagai bangsa yang komunal, kolektif, gotong royong; kapitalisme sama sekali tidak cocok diterapkan di Indonesia, menurut saya.

Fakta sejarah G 30 S sampai saat ini masih misteri, beberapa sejarawan beranggapan berbeda, sejarah begitu sangat subjektif. Saya cenderung tidak percaya Partai Komunis Indonesia (PKI) dan atau Soekarno menjadi dalang peristiwa ini.

Pertama, PKI adalah partai terbesar di Indonesia ketika itu, dan partai komunis terbesar di dunia (diluar Soviet dan China); memiliki anggota 3,5 juta ditambah kekuatan pemuda dan gerakan wanita. Bahkan beberapa seniman ternama juga sempat menjadi anggota PKI ketika itu. Saya pikir tidak mungkin rasanya mereka melakukan tindakan bodoh yang akan menghilangkan simpati rakyat.

Kedua, kalau memang benar peristiwa itu adalah kudeta yang terencana, mengapa anggota PKI yang ditangkapi (kemudian diadili tanpa persidangan, bahkan dibunuh) setelah peristiwa itu tidak melakukan perlawanan. Toh, kalau memang benar peristiwa G 30 S adalah percobaan kudeta, mengapa anggota PKI yang jumlahnya jutaan itu tidak bersiap-siap untuk melawan, atau setidaknya mempersenjatai diri.

Ketiga, Soekarno dihormati oleh dunia Internasional karena telah berhasil mempersatukan tiga konsepsi besar di Indonesia, yaitu Nasionalis, Agama, dan Komunis. Kita semua tahu bahwa Soekarno adalah seseorang yang sangat menjunjung tinggi "harga diri"; tidak mungkin rasanya beliau mendalangi peristiwa yang akan menghancurkan nama baiknya di mata dunia.

Menurut saya, sementara ini, Soeharto dan antek-antek militer-nya yang jelas-jelas anti-Soekarno bekerja sama dengan CIA yang tidak suka Indonesia didominasi kekuatan Komunis, melakukan pembunuhan terhadap pejabat penting di Militer, dan menuduhkannya kepada PKI. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa ada dokumen nama-nama anggota PKI yang harus ditangkap oleh angkatan bersenjata yang dikeluarkan oleh CIA.

Soeharto sukses besar; kekuatan militernya berhasil melemahkan popularitas Soekarno yang sudah sangat menurun. Supersemar disalahgunakan, legislatif diganti oleh antek-antek militer-nya, dan Soekarno sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena kekuatannya sudah melemah. Serta merta negara Indonesia berubah menjadi negara yang militeristik; investasi asing yang dahulu ditolak Soekarno mulai masuk dan mendominasi perekonomian Indonesia hingga saat ini. Sosialisme hancur sama sekali, kapitalisme merajalela. Setelah 32 tahun baru terbongkar boroknya.

Anehnya, samapai sekarang masih saja banyak orang yang masih mempercayai doktrin-doktrin orde baru. Komunisme begitu ditakuti seperti halnya gendurewo atau sundel bolong.    

 

       

 


bayugenia berkhotbah @ 02:54 pm
Make a comment
Monday, September 22, 2008
Apa itu bahagia?


Suatu malam saya dan temen-temen seni lukis terlibat dalam sebuah diskusi yang cukup serius di studio lukis atas. Awalnya ngebahas tentang topik Tugas Akhir (bahas fenomena agama yang ter-institusi dan kebobrokan kehidupan beragama di Indonesia) yang dipilih oleh salah seorang anak lukis, akhirnya pembicaraan melebar sampai ke pembahasan filsafat teologi, terus ujung-ujungnya saya disidang, apa pendapat saya tentang hal ini-hal itu, keyakinan yang saya yakini tentunya saya meyakini ketidakyakinan saya--,.. dan setelah mereka cukup pusing dengan jawaban saya, terakhir saya balik tanya: kalian lebih percaya dogma agama atau ilmu pengetahuan/sains?

Karena mereka termasuk orang-orang berkeyakinan maka jawabannya tentu saja mereka lebih percaya dogma agama walalupun jika dikaitkan dengan perkembangan kebudayan, teknologi, gaya hidup, penemuan mesin fotokopi, penemuan internet, manusia menginjakkan kaki di bulan, misi luar angkasa di planet Mars, atau dunia hiperrealitas, tentu saja dogma agama sudah tidak relevan jika tidak boleh dikatakan usang--. Perdebatan berakhir dengan tidak jelas, tanpa kesimpulan, tanpa solusi, seperti layaknya filsafat; bikin pusing dan tidak menawarkan solusi. Ya, berarti bisa dibilang ini perdebatan filosofis, perdebatan yang ngga pernah ada ujungnya. Kami membubarkan diri menuju kantin arsitek untuk minum kopi.

Ternyata diskusi berlanjut. Seorang temen saya bertanya, "Menurut kamu apa itu bahagia?". Wow. Pertanyaan yang sulit. Sesulit pertanyaan "apa itu cinta?", atau "untuk apa kamu hidup?". Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab melainkan dirasakan. Seperti wanita, tidak perlu didefinisikan, yang penting dirasakan,..hehehe..kidding.

Saya jawab seadanya, bahagia buat saya adalah terbebas dari segala kegelisahan-kegelisahan. Rasanya semenjak saya, katakanlah, mulai mempertanyakan mengapa saya hidup, mulai meragukan kebenaran-kebenaran yang tak terbantahkan, mulai menolak untuk sekedar percaya tanpa pembuktian rasional-empiris; saya selalu diteror kegelisahan-kegelisahan. Saya mencari kebenaran-kebenaran yang saya rasa dan saya pikir benar menurut saya. Sialnya, saya berada di kehidupan yang serba relatif, yang dipenuhi orang-orang suci serta orang-orang tamak, teror dapat membunuhmu kapan saja, kebijakan yang ditentukan orang lain dapat membuatmu jatuh miskin dan mati kelaparan dalam hitungan hari, saya hidup dalam kesepakatan yang tak pernah saya sepakati, saya hidup diantara orang-orang yang berlomba-lomba merasa lebih benar dari yang lainnya, saya berada dalam kehidupan yang tidak seindah lagu cinta evergreen yang sering saya dengarkan sebagai pengantar tidur.

Saya sepakat dengan berbagai definisi "bahagia" menurut para ustadz, motivator, presentator bisnis Multi Level Marketing, atau terdakwa yang sebentar lagi dieksekusi mati; bahagia adalah puncak hidup, bapak dari rasa puas, lega, senang, berhasil. Bahagia adalah bertemu dengan teman bermainmu waktu kecil, bertemu dengan orang yang kau kenal di tempat yang sangat asing bagimu, atau bertemu dengan orang yang kamu cintai sampai akhir hayatmu. Tapi kegelisahan akan tetap menyertai kita. Kegelisahan-lah yang membuat kita hidup; dan berpikir. Mungkin kita akan berhenti gelisah saat kita berhenti berpikir.

Mengutip temen saya yang jago debat bahasa Inggris: Happiness is a state of mind. Klise memang, tapi saya amini.



bayugenia berkhotbah @ 03:37 pm
Make a comment
Next Page



Bayu Genia Krishbie, S.Ds.; lahir di Bandung 15 Juli 1986; lulusan Kria Tekstil ITB; saat ini bekerja sebagai desainer grafis/tekstil/fashion; hobi main musik (drums & perkusi), nonton film, baca buku, sepakbola, dan berkenalan dengan orang-orang aneh; tertarik pada sejarah, cultural studies, sains, filsafat, dan banyak hal lainnya..
<< December 2017 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31

   

+abo.fikom unpad
+andrea.dkv itb
+annemarie
+ariani
+ayu
+ayu.dp itb>
+be pe.patung itb
+bram
+carryn.alumni dkv itb
+commonroom
+crimethought
+cupu
+diani.dkv itb
+dj eijkov
+empatbelas
+fannie
+fitrah.unpad
+gin.hukum unpar
+ikaria
+kania.lukis itb
+libertania
+lidya.dp itb
+nazla lutfiyah
+neneism.dkv itb
+ombolot
+pipit
+phoebe.fikom unpad
+radit.dp itb
+rani.alumni dkv itb
+rega.patung itb
+rey
+rimbapatria
+rizteg
+soe.alumni dkv itb
+soedra
+subur.fkg unpad
+syn.dp itb
+tarlen.tobucil
+tremor
+therainydays e-zine
+truegossiper
+uci.patung itb
+vetuyara
+vienz.arsitek itb
+winda
+zwei





  

[contact form]

 

Tidak ada sesuatu yang baru di kolong langit ini...

 

bayugenia.tk

circa 2001

 

Blogdrive